USTADZ KAMI CAKEP
Oleh Novi Yulia
Sembari mendendangkan sembilan puluh sembilan asma’ul husna, sebuah lagu islami yang sedang digemari oleh sebagian besar umat di Indonesia khususnya saat ini, kunikmati nyanyian burung gereja yang sedang asyik bercengkrama dengan para sahabatnya di atas pohon ceri. Mereka bergelut-gelut. Begitu riang, memperebutkan buah ceri yang berwarna merah.
“Ya.. Allah, Ya.. Rohmaan, Ya..Rohiim,Ya.. Malik
Ya.. qudduus, Ya.. Salaam, Ya..Mu’minu, Ya Muhaimin”
Ng……….ng………
Serine berbunyi panjang. Tanda waktu untuk berbuka puasa telah tiba. Sekonyong-konyong ia memaksa aku untuk berhenti mendendangkan nama-nama terbaik buat Allah itu. Untuk kemudian menikmati segelas susu putih dan semangkok kolak pisang yang telah setia menungguku di atas meja makan sedari tadi. Menunggu agar kusantap.
“Allahhumma lakasumutu wabika aamantu wa’ala rizkika aftortu birohmatika yaa arhamarrohimin”.
Kuteguk segelas susu. Menghangatkan dan memberi penghidupan di dalam perutku. Hm.., sekarang giliran kolak!. Sesendok demi sesendok kunikmati kolak buatan ibu. Kolak di sendok terakhirpun telah masuk ke mulut terus menelusuri terowong kerongkongan dan akhirnya sampai di perut. Semangkok kolak telah habis. Azan yang bergema dari corong setiap mesjidpun selesai. Tandanya aku harus bersiap-siap untuk melaksanakan shalat magrib.
* * *
Dengan riangnya aku dan teman-teman berangkat ke mesjid. Sebuah pulpen dan buku catatan ramadhan tidak lupa kubawa.
“He..! kalian tahu ngak kalau mesjid kita mendatangkan ustadz muda yang cakep” kata Riza.
“Emangnya kenapa?” tanya Lastri yang terkenal paling telat mikir di antara kami bertiga.
“Ah..Lu, masak itu aja ngak ngerti sih, Coba pikir! kita dikasih materi ramadhan sama ustadz yang guanteng gitu loh”. Riza berkata dengan semangatnya. “Mm.. tapi sekeren apasih dia Za?” Tanya Lastri lagi ingin tahu lebih lanjut, dengan nada yang lebih rendah.
“Ya.. pokoknya keren deh. Dengar-dengar dia yang akan membimbing kita selama kegiatan pesantren ramadhan ini”. Kata Riza menjelaskan.
“Hm.. dengar-dengar.., jadi kamu sendiri belum pernah lihat tu usadz..? dasar! Sok teu”. Kataku dengan sediki mencibir.
Pembicaraan kami mendadak terhenti karena kami telah berada di depan pintu. setelah mu’azin khamat, kami shalat isya berjamaah. Malam ini kami memilih duduk di bagian depan. Belum pernah kami duduk seperti ini. Biasanya kami duduk di bagian belakang. Alasannya tentu biar kami bisa bebas ngobrol saat ustadz yang berceramah tidak lucu atau meterinya tidak menarik. Kali ini kami benar-benar ingin tahu dengan ustadz yang dikatakan Riza tadi. Sebelum takbir, aku dan teman-teman mencari-cari celah untuk dapat melihat-lihat ke depan. Mencari sosok yang ingin kami kenal itu. Sayangnya itu tidak bisa kami lakukan karena kain pembatas antara syaf laki-laki dengan syaf perempuan cukup rapi dan tinggi.
Akhirnya saat-saat yang dinanti itu datang juga. Selesai berzikir dan berdo’a tirai pembataspun dibuka. Penglihatan kami lantang ke depan. Ceramah ramadhan dimulai. Dengan segala hormat protokol mempersilahkan ustadz menyampaikan materinya di atas mimbar.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” Suara itu terdengar agak sedikit berat barangkali micnya rusak. Walau tidak begitu jelas karena lampu mesjid tidak terang aku bisa melihat wajak ustadz dengan lantang. Pikiran kami berkecamuk apa yang di katakana Riza ternya benar. Cara panyampaian materi oleh usadzpun bagus. Judul ceramahnya yaitu Beramal Tanpa Ilmu. Pada panjelasnnya ada kisah yang kurasa menarik walau sebelumnya aku pernah mendengarnya. Kisahnya seperti ini: “Pada suatu ketika seorang laki-laki kaya pergi naik haji, membawa dua orang istrinya. Istri pertama bernama Azizah dan yang kedua bernama Hasanah. Ketika melaksanakan ritual tawaf si lelaki membaca “Robbana aatina fiddunya hasanah, wafil aakhiroti hasanah”. Beberapa kali berputar, istri tua si lelaki marah karena nama yang di sebut selalu hasanah. “Mentang-mentang dia istri mudamu” keluh azizah. Akhirnya si pemuda mengganti do’a. “Robbana aatina fiddunya azizah, wafil akhirati azizah”. Wah.. ternyaya giliran istri mudanya yang marah. “Mengapa azizah terus, mentang-mentang dia istri tuamu” kata hasanah. Setelah itu si pemuda memperbaiki ayatnya. “Robbana aatina fiddunya hasanah wafil aakhirati azizah”. Nah ini baru suami yang adil kata para istrnya”.
Semua jamaah tertawa mendengarkannya ditambah lagi cara penyampain dari ustadz benar-benar khas. Dia mengakhiri ceramahnya dengan pantun “Kok ado jarum nan patah, usah di simpan di dalam peti. Kok adao kato-kato ambo nan salah usah dilaporkan ka bapak polisi”. Tawapun kembali riuh, diiringi oleh jawaban salam.
Tarwiah delapan rakaat, di tutup dengan shalat witir tiga rakaatpun telah kami ikuti. Bapak-bapak dan ibuk-ibuk satu per satu pergi meninggalkan rumah Tuhan itu. sedangkan kami, semua siswa mulai dari SD, SMP dan SMA tidak satupun yang beranjak dari dalam mesjid karena malam ini adalah malam pembukaan kegiatan pesantren ramadhan. Pengurus mesjid meresmikan kegiatan ini. Selanjutnya dia memperkenalkan para pembimbing yang akan mendampingi kami selama kegiatan berlansung. Salah satu pembimbing yang diperkenalkan adalah ustadz cakep tadi. Kami merasa senang. Anggota pesantren dari SMA mendapatkan jadwal pada pagi hari, setelah shalat subuh.
Pagi ini kami mulai melaksanakan agenda-agenda ramadhan. “Nah itu dia ustadz yang semalam”. kata Riza mengagetkan kami saat salah seorang pembimbing kami berdiri di depan. Masyaallah.. benar-benar sempurna. Semua peserta memperhatikannya dengan seksama apalagi aku, Riza dan Lastri.
Ustadz yang dari kemarin telah menjadi buah pembicaraan kami sekarang ada di hadapan mata, berbicara dengan penuh wibawa. Kata-kata yang di sampaikannya menyentuh relung sanubari karena ia berbicara dari hati. Tenang tapi jelas, ia berkata sembari senyum. Tidak ada yang kami perbuat selain memperhatiakan kesempurnaanya. Pada akhir-akhir materi adalah saat yang kusenangi kerena ia memberikan waktu untuk bertanya atau bahkan menyanggah apa yang ia sampaikan tadi. Tidak jarang ia juga mempertanyakan sesuatu kepada kami. Karena materi yang disampaikannya merupakan materi yang cukup ringan, materi yang sudah biasa aku dapatkan di rumah dari ibu dan bapak maka saat ustadz mengajukan pertanyaan kepadaku tidak satupun pertanyaan itu yang kembali tanpa jawaban. Melihat itu kawan-kawanku menjadi tidak senang, mereka pada cemberut melihaku.
Di perjalanan pulang Riza dan Lastri tidak henti-hentinya membahas terkait ustadz tadi, dan terkadang mempersalahkan aku karena ia menganggap aku juga berusaha mendekatinya. Sementara itu aku hanya diam. Diam, bukan berarti tidak berbuat. Benakku juga di penuhi oleh bayangannya. Benar-benar contoh pemimpin keluarga yang sempurna. Apa aku telah jatuh cinta, apa ini yang di sebut cinta ya?. Tapi tidak mungkin umurku kan masih lima belas tahun, masak sudah jatuh cinta sih. Gumamku pada diri sendiri.
Sore harinya aku sibuk memasak. Setelah semuanya selesai, kusiapkan sebagian kerantang. Tepat pukul enam kubawa rantang itu ke mesjid. Berharap kalau ustadz yang cakep itu ada di sana. Syukur sekali hari ini gilirianku yang mengantar pabukoan ke mesjid. Gumamku sambil berjalan.
Betapa kagetnya aku saat tiba di mesjid, ternyata Riza dan Lastri juga sudah berada di sana.
“Wah.. wah.. ternyata kamu juga kesini? Ndak nyangka kemaren diam-diam saja. Heh! Aku kira kamu sahabatku yang terbaik. Ternyata kelian berdua itu sama saja”. Dengan penuh emosi Riza berkata kepada kami.
“Kenapa kamu sewot sih? Kita sama-sama punya hak untuk dekat sama ustazd. Kenapa kamu tidak suka?” Balas Lasri.
Sementara itu aku masih terdiam. Membisu dalam kebingungan. Disaat itu uztadz cakep datang memecahkan kebekuan kami. “Ada apa, kok marah-marahan? Ntar batal puasanya, sayangkan sebentar lagi mau buka.”
“Ngak, ngak da papa kok stadz” jawab kami hampir berbarengan. Sambil memperlihatkan rasa persahabatan di antara kami, aku menyerahkan rantang yang sedari tadi masih kujinjing.
“Ini pabukoannya ustadz, dimakan ya, enak lo, aku yang buat sendiri”. Kataku sambil sedikit senyum. Setelah diterimanya aku dan kawan-kawan berlalu.
“Tunggu!” Seru ustadz menghentikan langkah kami.
“Mmm maaf, saya tidak tahu pasti apa yang kalian permasalahkan tadi. (pura-pura tidak tahu) Yang pasti itu tidak arif dilakukan oleh seorang perempuan. jangan lihat manusia dari luarnya. Karena siapapun dia apapun profesinya, apakah ia ustadz, dosen, pejabat, petani dan sebagainya. Mereka itu adalah manusia dan pada setiap diri manusia menyimpan potensi kejahatan. Jadi, sekali lagi jangan mudah percaya dan mudah terpedaya oleh sesuatu yang tampak secara kasat mata.
“Ayo pulanglah! Oh iya, Itu dia”. kata ustazd sembari menunjuk ke arah pintu. kenalkan ini Aisyah, istri pertama saya” ia memperkenalkan seorang perempuan yang sangat anggun menggunakan jilbaber sembari tersenyum. Kami bersalaman dan saling menyebukan nama.
Cukup lama kami berbincang-bincang dengannya sabelum kami memutuskan untuk pulang. Kami pulang membawa biasbias rasa kecewa. Di perjalanan, tidak seorangpun yang bersuara. Kami terpuruk di dalam keterasingan yang dibangun sendiri. Semakin dipikirkan rasa kecewa itu semakin mendalam. Akan tetapi di ujung-ujung kegontaian langkah, aku berusaha memperhatikan satiap yang hadir dari wanita yang diakui ustazd sebagai istrinya itu, kubaca dengan teliti. Walaupun secara fisik dia tidak lagi berada di hadapanku, namun memoriku cukup kuat untuk mengembalikan semua yang terekam tadi.
Akhirnya aku temukan jawaban. Aku sadar bahwa dia benar-benar wanita yang cocok sebagai pendamping ustadz. Ya..walaupun sebenarnya kalau ada juri di antara kami. Dia akan kebingungan menentukan siapa yang tercantik di antara kami. Tetapi ada suatu hal yang di miliki kak Aisyah dan aku tidak memilikinya, yaitu cahaya iman yang terpancar dari wajahnya.
Penulis, Mahasiswi Sastra Daerah Minangkabau Unand dan bergiat di Labor Penulisan Kreatif Fak. Sastra Unand.